<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Mar 21, 2009
Jejak Luka yang Mengering
Jejak Luka Yang Mengering




Ketika pagi membuka hari
dan Ketika senja kembali datang
Ranting-ranting rapuh jatuh ke tanah
Bersama waktu yang semakin menua
Jejak-jejak luka kini telah mengering
Debu dan tanah memeluk jiwa kami yang pergi

Kepada semua yang tak berhati nurani
Kepada semua yang diperkuda kekuasaan
Bagimu kami hanyalah ranting kering

Tapi kami jiwa-jiwa bernurani
Kami terbang bersama sayap keadilan
Kepada kebenaran sejarah kami hinggap

Untuk jejak luka yang mengering





Pasar Minggu, 11 Maret 2009
Agung Arif Budiman

Didedikasikan untuk para korban pelanggaran Ham

Posted at 10:15 am by arixx
Make a comment  

 
Jul 28, 2007
Ketika Api Membakar

Ketika Api Membakar

 

Ketika api membakar

Butir es menjadi arang

Melepuh lepuh di pucuk rasa

Menguapkan segala air mata

Mengering terpanggang luka


Aku rindu setitik embunmu di pagi buta

 

 

 

 

Pasar Minggu, 28 Juli 2007


Posted at 06:04 pm by arixx
Make a comment  

 
Aug 27, 2006
"Dialog"

DIALOG

Jendela rumah yang terbuka belasan tahun lalu

Saat siang yang senyap seusai hujan deras

Tanah yang basah dan daun-daun yang berair


Aku menjadi seonggok ruh yang merinduMu

CahayaMu meniadakan ruang dan waktu


Hanya tangis dalam simpuhku kepadaMu

Melenyapkanku pada diriMu

Satu....




Pancoran, dini hari 22 Agustus 2006


Posted at 01:49 pm by arixx
Make a comment  

 
Aug 1, 2006
Bidadari tengah malam

BIDADARI TENGAH MALAM

Cerpen Agung Arif Budiman



 Malam sudah larut, rasa lelah dan kantuk membuatku begitu menikmati hangatnya kasur, bantal dan ranjang yang empuk. Pelan-pelan sepasang mataku mulai terasa sangat berat, sayup-sayup suara-suara merdu dari alam mimpi mulai memanggil-manggil seolah keluar dari bibir bidadari dan peri yang menghuni alam antah berantah tempatku berkunjung dalam lelap. Aku merasakan diriku sangat ringan seperti kapas yang terbang tertiup semilir angin, sebentar lagi aku akan bertemu para bidadari dan peri itu. Mereka begitu cantik dan manis kawan, ingin rasanya untuk tetap terlelap tanpa pernah terjaga untuk tidak kembali menghadapi penatnya pekerjaan sehari-hari yang membuat tulang-tulang dan badan ini makin rapuh dan reot. Samar-samar senyum para bidadari itu mulai membuatku masuk lebih dalam ke lorong kelelapan yang indah ini. Jari-jari tanganku berusaha menyentuh bibir merah yang merekah basah itu. Sejengkal lagi ujung jariku mengusap bibir basah dan membelai rambut hitam panjang lurus yang berkilauan tertimpa cahaya.... Tapi tiba-tiba kurasakan sesuatu seperti aliran listrik menyengat pusat kesadaranku, mataku terbuka mendadak dan bayangan bidadari-bidadariku  lenyap tanpa bekas. Kurasakan badanku tak lagi seringan kapas dan rasa pegal di sekujur badan membuatku seperti seonggok besi besar dan berat yang sudah karatan di atas ranjang.

Aku terjaga, telepon genggam di meja berbunyi nyaring bergetar-getar. Dengan malas dan menggerutu kuangkat benda yang telah membuyarkan semua bidadari dan peri impianku ini. Kulihat sebuah nomor tak dikenal muncul di tampilan layar berwarna biru menyala-nyala.

"Halo....," suaraku terdengar parau, sejenak hening beberapa saat sebelum terdengar suara perempuan menyapa.

"Selamat malam, maaf boleh kita ngobrol malam ini?"

"Oh, maaf ini siapa ya?"

"Bella."

"Bella siapa ya?"

"Kamu siapa?" perempuan itu balik bertanya.

"Eee.. panggil saja Don" aku agak tergagap menjawabnya.

"Oke Don, aku hanya ingin bercerita banyak denganmu malam ini"

"Tapi maaf aku belum pernah mengenalmu Bella..."

"Aku juga sama sekali tak mengenalmu Don"

"Oh, tapi dari mana kamu tahu nomor ini?"

"Aku hanya asal saja menekan nomor dan kebetulan saja ini nomor milikmu" perempuan bernama Bella ini menjawab dengan enteng.

Dalam hati aku mulai menggerutu, dengan enaknya perempuan iseng ini menelpon dan membangunkanku dari mimpi indah bersama bidadari dan peri cantik, benar-benar sial. Aku mulai berpikir untuk tidak melayani perempuan iseng ini dan segera menutup telepon agar aku bisa kembali lelap untuk menemui para peri dan bidadariku. Kasihan, mereka pasti sudah menungguku sekarang ini.

"Oke deh Bella mungkin kamu bisa menghubungi nomor lain saja aku ngantuk" jawabku sekenanya.

"Don, tunggu..."

"Apa lagi?"

"Don, aku.. aku hamil..." suara itu mendadak menjadi lirih.

Sejenak aku kaget dan terhenyak beberapa saat.

"Hamil?" Aku tertegun.

"Aku dalam masalah berat, aku hamil tanpa suami."

"Oooh...kenapa kamu cerita padaku?"

"Karena aku tak mengenalmu."

Mendadak rasa kantukku yang begitu hebat hilang sama sekali, berganti rasa penasaran terhadap perempuan misterius yang bernama Bella ini. Aku sama sekali tak pernah membayangkan sebelumnya, terbangun tengah malam dan menerima telepon nyasar dari perempuan yang tidak kukenal sama sekali dan dengan tiba-tiba pula dia menceritakan masalah pribadinya tanpa basa-basi.

"Sudah berapa bulan kehamilanmu?" Aku coba bertanya.

"Satu setengah bulan."

"Lantas apa rencanamu sekarang?"

"Aku sudah minta pertanggungjawaban laki-laki itu, tapi dia sama sekali  tidak peduli bahkan keluarganya mengusirku, aku sangat-sangat kecewa."

Kemudian dia bercerita tentang hubungannya dengan laki-laki itu. Perkenalan mereka diawali di sebuah klab malam. Laki-laki itu begitu hangat dan memesonanya, dia sendiri bercerita padaku bahwa dia pernah tidur dengan beberapa lelaki sebelumnya, bahkan pernah menjadi simpanan om-om yang doyan daun muda. Entah kenapa dia begitu terpikat dengan laki-laki yang ternyata masih anak kuliahan dan sanggup membuatnya tidak lagi tidur dengan laki-laki lain bahkan om-om kaya raya sekalipun.

"Kau mencintainya?"

Aku mendengarnya menghela nafas panjang, seolah beban yang ada di dadanya sekarang ini sangat-sangat menyesakkan.

"Hhhh dulu... tapi sekarang aku tak tahu lagi..." suaranya pelan dan tertangkap sebuah kegalauan dalam nada yang lirih dan putus asa.

"Bagaimana dengan orang tuamu?"

"Mamaku sedang sakit, sakit parah, aku tak ingin mamaku tambah sakit karena aku hamil begini"

"Papamu?"

"Papaku tidak akan menerima aku!" Nada suaranya mulai meninggi.

"Oooh...." aku seperti kehilangan kata-kata entah iba atau terkesima mendengarnya.

"Aku tak akan pulang ke orang tuaku lagi!" Suaranya bergetar menahan marah dan tangis.

"Kenapa?"

"Aku benci mereka..." kini suaranya datar tanpa emosi.

"Benci?" Aku semakin penasaran.

"Mereka membunuh adikku."

"Membunuh?" Aku semakin terkejut.

"Waktu itu, adikku hamil tiga bulan"

Kemudian dia menceritakan betapa marah orang tuanya tehadap adiknya yang waktu itu masih sekolah di bangku smu. Dengan terbata-bata dia mencoba mengingat kenangan pahit itu. Aku mendengarnya kata demi kata seolah sedang menyimak sebuah pementasan monolog yang begitu getir. Suaranya bergetar menceritakan penderitaan adiknya ketika dipaksa menggugurkan kandungan oleh orang tuannya.

"Mereka memberikan arak cina yang sangat keras, adikku dipaksa meminumnya.... dan bayi itu lahir dengan panjang hanya 15 sentimeter." terdengar sedikit isak tangis pedih di jeda kata-katanya.

Aku semakin hanyut dalam drama yang begitu mencekam dan menyedihkan.

"Kemudian nyawa adikku tidak tertolong lagi, sejak itu aku tak mau pulang ke rumah... aku benci mereka."

Sejenak suasana hening setelah dia mengakhiri cerita sedih tentang adiknya. Malang sekali perempuan-perempuan ini. Mungkin di tayangan sinetron kita sudah biasa menyantap suguhan cerita-cerita pilu seperti ini. Sekarang aku merasakan cerita ini begitu dekat dan seolah sangat nyata hadir di depanku.

"Sekarang kamu dimana Bella?"

"Aku sekarang ada di hotel di kota kelahiran laki-laki yang menghamiliku"

"Apa yang kamu lakukan di sana?"

Kemudian dia kembali bercerita kalau semua ini dia lakukan agar laki-laki itu mau bertanggung jawab. Dengan uang pas-pasan dia menyusul laki-laki itu yang mendadak menghilang setelah mendengar kehamilannya. Laki-laki itu pulang ke kota kelahirannya dimana seluruh keluarganya tinggal.

"Tapi di sini aku benar-benar dikecewakan, mereka semua menolakku," dia terdengar pasrah. "Biarlah kalau dia memang tak mau bertanggung jawab aku akan pergi kemanapun aku suka, dimana aku bisa membesarkan anakku."

"Terus kamu mau makan apa? Apa kamu punya pekerjaan?"

"Tidak aku tidak punya pekerjaan apa pun, sampai detik ini uangku tinggal lima puluh ribu tidak cukup untuk ongkos pulang, mungkin hp ku akan kujual setelah selesai menelponmu."

"Laki-laki itu bagaimana?"

"Dia hanya menaruhku di hotel ini dan meninggalkanku tanpa memberiku makan, tanpa menjengukku sekalipun... aku tak tahu harus bagaimana lagi."

"Setelah ini kamu mau pergi kemana?"

"Aku masih punya teman di kota lain aku akan ke sana mungkin dia bisa menolongku."

"Jika temanmu itu tak bisa menolongmu?"

"Aku akan menjual diriku pada laki-laki yang mau mengasihaniku."

"Oooh.." Aku kembali tak bisa berkata-kata.

"Biarlah dosa ini aku tanggung sendiri dan demi anakku nanti aku akan bertahan."

"Oooh.." Aku benar-bernar tak tahu harus bicara apa.

Mendadak hubungan telepon terputus, beberapa saat kutunggu ternyata dia tak menelponku lagi. Aku terdiam pikiranku menerawang kosong. Kumain-mainkan hp dalam genggamanku hingga akhirnya aku memutuskan untuk menelpon balik. Kuhubungi nomornya yang masih terekam di hp , beberapa kali kuhubungi ternyata nomor yang kutuju sudah tidak aktif lagi. Kuletakkan hp di atas meja dan kembali pikiranku menerawang mengingat pembicaraan telepon dengan perempuan yang bernama Bella beberapa saat yang lalu.

Menit demi menit berlalu hingga akhirnya rasa kantuk menyergapku untuk menikmati kembali hangatnya kasur, bantal dan ranjang yang empuk. Bidadari dan peri cantik kembali membayang dalam kantukku. Lambat laun aku terlelap dan merasakan badanku seringan kapas mengikuti angin. Pasti ini saatnya untuk kembali bertemu dengan bidadari dan peri cantik dalam lelap mimpiku. Samar-samar aku mulai melihat sosok bidadari-bidadari itu, makin lama makin jelas aku melihatnya. Ketika tubuhku melayang mendekat tiba-tiba jantungku seperti berhenti berdetak. Kulihat dua bidadari berambut panjang dengan muka yang pucat. Mata mereka kosong, bibir mereka tak lagi tersenyum. Bidadari itu memegangi perutnya yang membuncit seperti sedang hamil tua sedangkankan bidadari di sebelahnya menimang orok kecil tak bernyawa berlumuran darah dengan panjang tak lebih dari 15 sentimeter, darah menetes membasahi paha hingga betisnya.  Lagi-lagi aku hanya terpaku tak mampu bicara apa-apa.[..]


Posted at 05:35 pm by arixx
Make a comment  

 
Dec 23, 2005
Syair Cinta

SYAIR CINTA I, II, III
Agung Arif Budiman


SYAIR CINTA I

Mencintaimu adalah mencintai kesepianku
Dalam kesendirianku aku memilikimu


Yogyakarta, 30 Juni 2001

SYAIR CINTA Il

Titik embun berkilau
Kepada jendela kaca
Pagi berpeluk dingin
Masih lelapkah engkau kekasihku
Ketika semalam aku mencumbuimu
Sebagai kerlip-kerlip bintang malam hari


Yogyakarta, 1 Juli 2001


SYAIR CINTA III

Mencinta seperti air kepada biru samudra
Mencinta seperti tanah kepada hijau pohon
Mencintalah seperti alam raya
Selapang udara yang kau hirup
Dan sebersih percik mata air

Yogyakarta, 1 Juli 2001

 


Posted at 07:10 pm by arixx
Comments (5)